Networking, Opensource and Experience

top line

Selamat tinggal Ciremai #4

Pagi itu dipuncak ciremai suasana cukup ceria, suara riuh rendah mulai terdengar samar. Mentari sudah tak malu-malu lagi menampakkan diri dan memancarkan kehangatan, kini hangatnya sinar mentari sudah bisa gua rasakan, jaket yang sedari tadi menempel gue copot, dan sinar mentari yang cukup hangat tersebut gue mamfaatkan untuk mengeringkan baju spatu dan kaos kaski yang lembab karena dingin.

Perlaha suara riuh rendah itu berganti dengan ketenangan, para pendaki sudah berjalan kembali ke tenda masing-masing untuk berbenah dan turun gunung. Kini tinggal suara beberapa temen-temen gue yang masih asik berfoto, sebagian lagi sibuk mempersiapkan makanan dan sebagianlagi mebereskan tenda dan barang pribadi masing-masing.



Pagi ini kami makan besar, karena ini makan terakhir di gunung semua lauk yang tersisa dimasak, kornet, sarden, mie instant, pilus, sayur dan nasi. Selesai sarapan pagi itu kami bergegas membereskan barang-barang, karena hari perjalanan turun akan sangat jauh dan melelahkan, tapi tentu tidak melelahkan seperti perjalanan naik.

Kami akan turun melalui jalur Palutungan, selain untuk menengok Goa Walet, salah satu icon gunung ciremai, juga agar perjalanan lebih santai karena jalur palutungan lebih landai dari pada linggar jati. Untuk sampai ke jalur palutungan, kami harus mengitari setengah kawah Gunung Ciremai yang memakan waktu + 1jam.

Pukul 09.00 WIB kami mulai berjalan menuju jalur palutungan, walaupun jalur Palutungan landai, namun itu hanya terjadi di area hutannya saja. Sedangkan dari puncak sampai pos Sanghiyang Ropoh jalurnya cukup terjal, walaupun tidak separah jalur Linggarjati. Akbar adinya dinan lagi-lagi menangis, karena sudah merasa kelelahan dan trek yang terjal serta berbatu beberapa kali membuat dia terjatuh, terpeleset dibebatuan, namun dengan semangat dari sang kaka, serta motivasi tiada henti dari heru Akbarpun bisa melawati situasi sulit itu.

Kami tidak jadi singgah ke goa walet diakrenakan waktu sudah semakin siang, dan untuk menuju ke goa walet kami harus berbelok sedikit ke kiri dari trek, kami kami putuskan untuk tidak mengunjungi tempat itu. Namun persimpangan jalan menuju goa walet itu Akbar memaksa untuk turun "Siapa tau ada air disana", dia sudah kehausan, sementara persediaan air kami tinggal 1,5 botol saja jadi kami harus bener-bener berhemat.

Saat perbincangan itu terjadi ada rombongan pendaki yang juga turun dan mereka memberikan 1 botol air kepada Akbar, kebetulan mereka mendaki bertiga dan memiliki sisa air 2 botol, haha, inilah yang gue suka ketika naik gunung, lu bakal care sama orang lain yang ada disekitar lu.

Perjalanan kami teruskan, selepas pos goa walet, kami tiba di persimpangan jalur Palutungan - Apuy. Kemudian kami mulai memasuki kawasan hutan yang landai, sejak saat itu kita terpecah menjadi beberapa kelompok, kelompok depan Heru Akbar dan Abay, kelompok tengah gua, Dinana dan Abdurrahman, sedangkan kelompok paling belakang Ocit, Toko dan Fahmi.

Untuk sampai di Cigowong, sumber air di jalur Linggarjati kami harus melewati beberapa pos yaitu, Sanghiyang Ropoh, Pesanggrahan, Tanjakan Asoy, Arban, Pangguyangan Badak dan Kuta. Kami akhirnya bertemu berkumpul lagi di pos Pangguyang Badak, stok air memang sudah habis kami mengisi tenaga dengan sepotong nutrijel, setelah istirahat cukup lama di pos Pangguyang Badak kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan pemberhentian Cigowong untuk mengisi air dan makan.

Sesampainya di Cigowong kami segera mengisi air, mencuci muka, memasak, serta melaksanakan sholat. Kami berhenti cukup lama di sini, ketika hendak melanjutkan perjalanan tiba-tiba hujan dengan derasnya mengguyur, dan kami memutuskan untuk menunda perjalanan, sekitar + 2 jam kami habiskan di sini, hujan sudah mulai ringan namun tidak benar-benar berhenti, akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan dangan menggunakan raincoat.

Jalan yang telah dibasahi hujan itupun berubah menjadi licin, namun kami dapat mengatasinya, waktu tempuh kami cukup cepat sampai didekat kumpulan hutan pinus kami menemukan kelompok yang tetap melanjutkan perjalanan ketika hujan deras di pos Cigowong tadi, mereka berjalan sangat lambat, mau-tak-mau itu memperlambat gerak kami, dan membuat kami menikmati awal malam di perjalanan.

Saat hari sudah berganti gelap kami baru keluar dari hutan dan berjalan melewati perkebunan warga dari sini ke pos Palutungan memakan waktu 30 menit, akhirya kai sampai di pos Palutungan pukul 18:00 WIB, Heru langsung mencari mobil untuk perjalanan pulang, akrena jika sudah lewat maghrib sulit untuk mencari angkutan dari pos Palutungan (Cigugur).

Saat itu ada seorang bapak yang menawari mobil untuk mengantar kami ke terminal Cirebon. Namun karena gue, Heru dan Fahmi akan ke arah tasik, jadi kami memisahkan diri dan berpamitan dengan Dinan dkk yang akan menuju bandung. Saat tiu terdapat 11 orang pendaki lain yang juga ingin ke terminal Cirebon, mereka berangkat dengan mobil pick up menuju terminal Cirebon.

Setelah teman kami yang 6 itu berangkat sekarang tinggallah kami bertiga yang belum tau mau naik apa ke tasik, akhirnya Fahmi bertanya kepada warga sekitar, ada warga yang menyanggupi untuk mengantarkan kita sampai ke Kuningan dengan motor, dari Kuningan nanti kami naik bis jurusan Tasik-Cirebon.

Ketika sedang bernegosiasi dan "abang-abang ojek dadakan" sudah mau berangkat, tiba-tiba ada mobil pick up lewat. Kami reflek menghentikan mobil tersebut dan fahmi langsung bernegoisasi dengan sang supir, si sopirpun bersedia mengantarkan kami hingga pertigaan Cigugur, kami menbatalkan begitu saja kesepakan dengan abang-abang ojek dadakan tadi, "Maafkan kami abang-abang ojek, mungkin belum rezekimu".

Sesampainya di pertigaan Cigugur kami kembali kebingungan, dan bertanya ke warga sekitar, ternyata bis jurusan Tasik-Cirebon lewat sini hanya siang hari, sedangkan malam mereka langsung lewa kota. Sekarang kami mulai kebingungan mencari tumpangan menuju kota, angkot sudah tidak ada karena sudah malam.

Kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, sambil berharap ada orang yang mau menumpangi kami. Kaki gue udah berasa tebel, sejujurnya udah ngak bisa jalan lagi, tapi tetap gue paksa, karena ngak mungkin kita hanya menunggu saja di pinggir jalan itu, tak lama + 100 meter berjalan kaki tuhan mengirimkan bantuannya, sebuah truk lewat lalu kami melambaikan tangan dan truk itupun berhenti.

"Rek kemana?", tanya supir truk.
"Ka Tasik mang, anter nepika manggih bus Tasik - Cirebon we" jawab Fahmi.
"Nya sok anek", kata sopir.

Fyuhh,, lega rasanya mendapat tumpangan, sesampai di atas truk gue langsung selonjoran karena udah ngak kuat lagi berdiri, urusan jalan gue serahkan sama Heru dan Fahmi mereka lebih paham karena udah berkali-kali naik Ciremai.

Alhamdulillah, tumpangan ini begitu berarti bagi kami bertiga. Kami berada di truk itu cukup lama. Sampai akhirnya, kami tiba di pertigaan jalan yang jalurnya cukup ramai dilalui mobil. Kami langsung turun disana, dan memang benar itu jalur utama yang dilalui kendaraan antar-kota antar-provinsi. Selang satu jam, kami menunggu di jalanan, akhirnya ada juga bus 3/4 jurusan Tasik - Cirebon.

Alhamdulillah, bisa pulang juga akhirnya.

Gue Fahmi dan Heru sampai di Tasik pukul 23.00 WIB, sedangkan rombongan Bandung tiba di rumah Dinan pukul 02.00 WIB dinihari.

Hari itu gue bermalam dirumahnya Fahmi, paginya sekitar pukul 10:00 gue langsung berangkat ke Ciputat lagi.

Zikrillah

An ordinary person who use a keyboard to print a word on his screen, "an experienced keyboard user".

No comments :

Post a Comment

Leave a Comment...